review-makanan-coto-makassar

Review Makanan Coto Makassar

Review Makanan Coto Makassar. Coto Makassar tetap menjadi salah satu sup tradisional paling ikonik dari Sulawesi Selatan hingga akhir 2025. Hidangan berkuah kental cokelat kehitaman ini terbuat dari jeroan dan daging sapi yang direbus lama dengan campuran rempah khas, menghasilkan rasa gurih mendalam yang hangat di lidah dan perut. Berasal dari Makassar, coto bukan sekadar makanan pengenyang, tapi simbol keramahan dan ketangguhan kuliner Bugis-Makassar. Kuahnya yang pekat dari kacang tanah sangrai dan rempah membuatnya berbeda dari sup lain di Indonesia, sering menjadi menu sarapan favorit atau hidangan spesial saat berkumpul keluarga. BERITA BOLA

Sejarah dan Makna Budaya: Review Makanan Coto Makassar

Coto Makassar sudah ada sejak abad ke-16, saat Kerajaan Gowa-Tallo menguasai jalur perdagangan rempah. Pengaruh pedagang dari Gujarat dan Maluku memperkaya resep dengan penggunaan kacang tanah sangrai serta campuran 40 jenis rempah—meski resep modern lebih sederhana. Awalnya hidangan bangsawan, coto kemudian menjadi makanan rakyat karena bahan jeroan yang terjangkau. Dalam budaya Makassar, coto sering disajikan pada acara adat, selamatan, atau penyambutan tamu sebagai tanda hormat. Filosofi di baliknya adalah pemanfaatan seluruh bagian sapi tanpa pemborosan, mencerminkan nilai hemat dan syukur masyarakat pesisir. Kini coto diakui sebagai warisan kuliner nasional yang terus dilestarikan.

Rasa Khas dan Komposisi yang Kaya: Review Makanan Coto Makassar

Kuah coto berwarna cokelat gelap, gurih dari kaldu sapi yang direbus berjam-jam, ditambah kekentalan halus dari kacang tanah yang disangrai dan digiling. Rempah utama seperti serai, lengkuas, ketumbar, jinten, dan salam memberikan aroma harum yang kuat tanpa terlalu pedas. Isian meliputi daging sapi empuk, babat, paru, usus, dan lidah yang direbus hingga lunak. Pelengkap wajib adalah buras atau ketupat, sambal tauco pedas, bawang goreng renyah, irisan seledri, serta perasan jeruk kunci yang menyegarkan. Rasa keseluruhan gurih dalam, sedikit manis dari kacang, dan hangat rempah—semakin nikmat saat kuah meresap ke buras yang pulen.

Cara Pembuatan Tradisional

Membuat coto autentik membutuhkan kesabaran panjang. Daging dan jeroan direbus terpisah hingga empuk, kaldu yang dihasilkan menjadi dasar kuah. Kacang tanah disangrai hingga harum, digiling halus, lalu dicampur bumbu tumis dari bawang merah, bawang putih, serai geprek, lengkuas, dan rempah bubuk. Semua bahan direbus lagi dengan api kecil selama berjam-jam hingga kuah mengental alami dan bumbu menyatu sempurna. Proses ini sering dilakukan semalaman agar rasa semakin bulat. Coto terbaik disajikan panas-panas, dengan isian yang masih kenyal dan kuah yang tidak terlalu berminyak. Penambahan tauco sebagai sambal memberi sentuhan pedas-asin yang pas untuk menyeimbangkan gurih kuah.

Kesimpulan

Coto Makassar adalah hidangan yang berhasil menggabungkan kekayaan rempah, kesabaran memasak, dan nilai budaya dalam satu mangkuk hangat. Kuah kental gurih, isian melimpah, serta aroma rempah yang mendalam membuatnya selalu dirindukan sebagai comfort food khas Sulawesi Selatan. Di akhir 2025, coto tetap relevan sebagai simbol keramahan dan ketangguhan kuliner nusantara. Bagi pecinta sup berat dan beraroma kuat, coto wajib dicoba untuk merasakan kehangatan Makassar yang sesungguhnya. Hidangan ini patut terus dijaga agar generasi mendatang tetap menikmati kelezatan tradisional yang timeless ini.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *